Al-Hajatu tunajjalu manzilata al-dharurati ‘ammah kanan aw khashshah


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Fiqh sebagai ilmu metodologi pengambilan hukum mempunyai peranan penting dalam ranah keilmuan agama Islam khususnya dalam ilmu hukum Islam atau ilmu fiqh. Pembahasan dari segi kebahasaan atau lughawiyah, sangat penting sekali di tela’ah karena sumber hukum Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadist yang menggunakan bahasa arab yang mempunyai banyak makna yang terkandung di dalamnya. Dalam makalah ini, kami akan membahas mengenai kaidah Al-Hajatu tunajjalu manzilata al-dharurati ‘ammah kanan aw khashshah.

1.2 Rumusan Masalah

a)      Apa yang dimaksud dengan kaidah Al-Hajatu tunajjalu manzilata al-dharurati ‘ammah kanan aw khashshah?
b)      Apa dasar kaidah dari Al-Hajatu tunajjalu manzilata al-dharurati ‘ammah kanan aw khashshah?
c)      Apa perbedaan dari Hajat dan Dharurat?
d)     Bagaimana penerapan dari kaidah Al-Hajatu tunajjalu manzilata al-dharurati ‘ammah kanan aw khashshah?


 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1     Pengertian Al-Hajatu tunajjalu manzilata al-dharurati ‘ammah kanan aw khashshah

Dimaksudkan dengan dharurat adalah keadaan yang mewajibkan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan yang berlawanan dengan hukum, karena adanya bahaya, seperti melakukan perbuatan yang dilarang dalam keadaan terpaksa. Apabila orang tidak melakukan sesuatu yang berlawanan dengan hukum itu, akan timbul bahaya pada dirinya.
Sedangkan yang dimaksud dengan hajat adalah keadaan yang menghendaki agar seseorang melakukan suatu perbuatan yang tidak menurut hukum yang semestinya berlaku, karena adanya kesulitan dan kesukaran atau seseorang yang melakukan perbuatan yang menyimpang dari hukum yang semestinya itu karena untuk menghindari kesukaran dan kesulitan bukan karena menghindari bahaya seperti pada keadaan dharurat.
Adapun yang dimaksud ‘ammah adalah bahwa kebutuhan itu meliputi kebutuhan seluruh umat manusia. Sedangkan yang dimaksud khashshah adalah kebutuhan bagi suatu golongan atau kelompok tertentu.

2.2     Dasar kaidah Al-Hajatu tunajjalu manzilata al-dharurati ‘ammah kanan aw khashshah

Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 173:
Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.
Al-Qur’an surah Maidah ayat 3:
Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,
Al-Qur’an surah al-An’am ayat 145:
Siapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas,
Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 231:
Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka.
Hadis Rasulullah Saw. riwayat dari Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Abbas:
Tidak boleh membahayakan dan tidak boleh (pula) saling membahayakan (merugikan).

2.3     Perbedaan dari Hajat dan Dharurat

Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan perbedaan yang mendasar dalam membedakan antara keadaan yang dalam tahapan hajat, atau keadaan yang sudah pada tahap dharurat. Adapun perbedaan yang paling mendasar adalah efek yang timbul dari tidak terpenuhinya sesuatu. Apabila efek yang timbul dari tidak terpenuhinya sesuatu tersebut hanyalah kesulitan semata, maka keadaan yang demikian baru menempati tahapan hajat. Akan tetapi ketika tidak terpenuhuinya sesuatu itu bisa menjadikan binasa atau bahkan kematian, maka keadaan tersebut sudah mencapai pada keadaan yang dharurat.
Dari qaidah di atas, dapat diketahui bahwa keringanan itu tidak hanya terbatas pada hal yang dharurat saja, tetapi terdapat pula pada yang hajat, atau dengan kata lain, bahwa keringanan itu dibolehkan adanya pada yang hajat sebagaimana dibolehkan pada yang dharurat.
Menurut Muhammad al-Zuhaili, meskipun dharurat dan hajat sama-sama menyebabkan kehalalan pada sesuatu yang diharamkan, namun sifat hukum yang lahir dari keduanya  memiliki perbedaan, yaitu sebagai berikut:
a)      Dharurat menghalalkan sesuatu yang diharamkan, baik itu menimpa personal ataupun masyarakat secara umum. Sedangkan hajat tidak menghalalkan sesuatu yang haram kecuali kebutuhan tersebut bersifat umum. Ketika hajat bersifat umum maka kedudukannya sama seperti dharurat
b)      Hukum yang lahir karena hajat bersifat permanen yang berlaku bagi yang membutuhakan ataupun yang lainnya. Sebaliknya, hukum yang lahir karena dharurat bersifat sementara, yang berakhir seiring berakhirnnya kedharuratan.

2.4     Penerapan dari kaidah Al-Hajatu tunajjalu manzilata al-dharurati ‘ammah kanan aw khashshah

a.       Pada dasarnya dalam jual beli hanya dibolehkan atau dianggap sah apabila rukun dan syarat dalam jual beli itu telah sempurna. Diantaranya adalah barang yang diperjual belikan itu telah terwujud. Tanpa suatu alasan yang bersifat dharurat tidak boleh diadakan keringanan yang dengan penyimpangan dari hukum. Namun untuk keluasan hidup dan atau untuk menghilangkan kesulitan dan kesukaran, diadakanlah keringanan dalam jual beli, yaitu dengan membolehkan sah jual beli meskipun barang (objek) belum terwujud, seperti jual beli salam.
b.      Untuk menjaga kebutuhan orang banyak dalam menghindari spekulasi para pedagang, maka pemerintah dibolehkan membatasi atau menetapkan harga barang-barang pokok yang diperjual-belikan. Meski sebenarnya tindakan pemerintah itu membuat kerugian kepada pihakpihak tertentu.
c.       Laki-laki diperkenankan berhadapan muka dengan perempuan yang bukan muhrimnya dalam pergaulan hidup sehari-hari dalam bermuamalah.
d.      Karena dihajatkan oleh para manusia pada umumnya, maka menjanjikan suatu upah/ hadiah kepada siapa yang berjasa dibolehkan, meski menurut qiyas tidak dibenarkan, karena didalam hadiah terdapat sesuatu yang tidak jelas.
e.       Karena suatu hajat yang mendesak dan bukan karena hiasan semata, seseorang dibolehkan menambal bejananya yang retak dengan bahan dari perak.




BAB III

PENUTUP

3.1   Kesimpulan

Dharurat yang dimaksud adalah keadaan yang mewajibkan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan yang berlawanan dengan hukum, karena adanya bahaya, seperti melakukan perbuatan yang dilarang dalam keadaan terpaksa. Apabila orang tidak melakukan sesuatu yang berlawanan dengan hukum itu, akan timbul bahaya pada dirinya.
Sedangkan yang dimaksud dengan hajat adalah keadaan yang menghendaki agar seseorang melakukan suatu perbuatan yang tidak menurut hukum yang semestinya berlaku, karena adanya kesulitan dan kesukaran atau seseorang yang melakukan perbuatan yang menyimpang dari hukum yang semestinya itu karena untuk menghindari kesukaran dan kesulitan bukan karena menghindari bahaya seperti pada keadaan dharurat.
Dasar kaidah dari :
a)      Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 173,
b)      Al-Qur’an surah Maidah ayat 3,
c)      Al-Qur’an surah al-An’am ayat 145,
d)     Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 231,
e)      Hadis Rasulullah Saw. riwayat dari Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Abbas.


Daftar Pustaka 

Ariyanto. (2017). Kaidah-kaidah Fikih; Sebuah Aplikasi dalam Bidang Muamalat dan Ekonomi Islam. Banda Aceh: Bandar Publishing.

Azhari, F. (2015). Qawaid Fiqhiyyah Muamalah. Banjarmasin: Lembaga Pemberdayaan Kualitas Ummat.

Contoh Business Plan Souvenir


BAB I

1.1   Deskripsi Bisnis

1.1.1        Potensi Pasar

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula.
Pernikahan dalam Islam merupakan fitrah manusia dan merupakan ibadah bagi seorang muslim untuk dapat menyempurnakan iman dan agamanya. Dengan menikah, seseorang telah memikul amanah tanggung jawabnya yang paling besar dalam dirinya terhadap keluarga yang akan ia bimbing dan pelihara menuju jalan kebenaran. Pernikahan memiliki manfaat yang paling besar terhadap kepentingan-kepentingan sosial lainnya. Kepentingan sosial itu yakni memelihara kelangsungan jenis manusia, melanjutkan keturunan, melancarkan rezeki, menjaga kehormatan, menjaga keselamatan masyarakat dari segala macam penyakit yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta menjaga ketenteraman jiwa. Dewasa ini pernikahan di Aceh mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Jika dilihat berdasarkan data, jumlah nikah dan banyaknya rumah tangga di Aceh mengalami peningkatan setiap tahunnya. Itu terlihat jelas dengan pelaksanaan akad nikah yang dilaksanakan di KUA (Kantor Urusan Agama) maupun Masjid pilihan yang hampir terjadi setiap harinya. Berikut tabel perincian jumlah nikah dan banyaknya rumah tangga di Aceh:
Table 1
Jumlah Nikah dan Banyaknya Rumah Tangga di Aceh, 2013-2015
Tahun
Jumlah Nikah
Banyaknya Rumah Tangga
2013
40.478
1.141.600
2014
40.565
1.164.200
2015
42.969
1.186.600
Sumber : Badan Pusat Statistik
Berdasarkan tabel di atas, kita bisa melihat bahwa jumlah nikah pada periode 2013 hingga 2015 selalu di atas 40ribu jumlah nikah, dimana tahun 2015 mengalami peningkatan jumlah nikah sebesar 2.404 (dari 40.565 jumlah nikah menjadi 42.969 jumlah nikah). Selain itu, banyaknya rumah tangga juga mengalami peningkatan yang tinggi dari periode 2013 hingga 2015, dimana setiap tahunnya bertambah lebih dari 22ribu rumah tangga di Aceh.

1.1.2                    Masalah Pasar yang ingin dimasuki

Pernikahan di Aceh memiliki adat dimana kedua mempelai mengadakan pesta pernikahan yaitu ketika Tueng Linto Baroe (tueng-menerima, linto-laki-laki, baroe-baru) dan Tueng Dara Baroe (tueng-menerima, dara-perempuan, baroe-baru). Ketika tamu datang ke acara pesta pernikahan, tak lupa para tamu membawa kado sebagai ucapan selamat pernikahan dan tuan rumah acara meyediakan souvenir sebagai ucapan terima kasih sudah menghadiri acara pesta. Disinilah letak permasalahan, dimana souvenir khusus untuk acara pernikahan sulit untuk didapatkan, souvenir yang kurang update, harga yang kurang bersahabat dengan budget pernikahan, serta souvenir yang kurang sesuai dengan acara pernikahan.
Dengan permasalahan ini, bisnis kami hadir untuk mengatasi permasalahan yang terjadi dengan menawarkan kemudahan untuk mendaparkan souvenir pernikahan, souvenir terbaru atau terupdate, harga yang terjangkau dengan kualitas baik, serta sesuai dengan acara pesta pernikahan.

1.2   Sekilas tentang Bisnis

Nama usaha saya adalah Toke Souvenir Aceh, dimana pengambilan nama ini mengandung makna setiap katanya. Toke mengandung makna sebagai bos atau pemimpin, ini sebagai doa untuk saya supaya menjadi seorang  pemimpin yang bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Souvenir makna sebagai gambaran dari usaha yang saya jalankan. Aceh mengandung makna sebagai lokasi utama target pemasaran saya.
Usaha ini merupakan usaha baru yang akan saya rintis pada awal tahun 2019 (bulan Januari), sebagai gebrakan baru di dunia perdagangan souvenir yang berfokus pada souvenir pernikahan. Usaha ini termasuk kedalam usaha rumahan, dimana barang akan dipasok di rumah saya (Desa Cot Preh, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar) dan bisa diambil atau dilihat barang langsung di rumah saya. Saya juga menyiapkan sebuah logo untuk mempermudah masyarakat mengenali dan mengingat usaha saya, berikut logo usaha saya:

1.3   Visi, Misi dan Motto

1.3.1        Visi

Menjadi pemasar souvenir pernikahan terbesar, terbaik dan terkemuka di Indonesia

1.3.2        Misi

Ø  Memberikan produk kualitas terbaik.
Ø  Memberikan pelayanan terbaik.
Ø  Bekerja secara optimal dan lebih baik setiap harinya.
Ø  Menambah mitra kerja bermutu.
Ø  Mengembangkan pemasaran dengan cara baru.
Ø  Memperhatikan lingkungan dan sosial.

1.3.3        Motto

Melayani pelanggan sepenuh hati dengan kepuasan pelanggan prioritas utama.

BAB II

2.1   Analisis Pasar

2.1.1        Segmentation (Segmentasi Pasar)

Segmentasi pasar usaha ini adalah para masyarakat yang mengadakan pesta pernikahan, terutama para pemuda pemudi yang mencari souvenir yang terupdate, unik dan sesuai dengan acara pesta mereka.
a.       Geografi
Jika dilihat secara geografis, usaha ini didirikan di daerah kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, dimana daerah ini masih kental akan adat Tueng Linto Baroe  dan Tueng Dara Baroe, serta tidak ada toko souvenir pernikahan, sehingga bisa dikatakan sebagai lokasi yang tepat untuk memulai usaha ini
b.      Demografi
Konsumen yang dituju adalah konsumen yang berada disekitar lokasi usaha, namun target utamanya ditujukan pada:
         Masyarakat yang akan mengadakan pesta pernikahan
         Jenis kelamin: laki-laki dan perempuan
         Tingkat ekonomi : difokuskan pada kalangan menengah ke atas
c.       Psikografi
Dari sisi ini, toke souvenir aceh memiliki koleksi souvenir yang baru dan trendi dengan harga yang pas di kantong, bisa digunakan oleh anak kecil hingga orang tua, serta digunakan kapanpun, sehingga souvenir pernikahan ini membuat ingat akan kenangan pesta yang pernah di adakan.

2.1.2        Targeting (Penetapan Pasar Sasaran)

Target pasar untuk penjualan souvenir pernikahan adalah semua kalangan masyarakat yang akan mengadakan pesta pernikahan, terutama kalangan pemuda-pemudi kelas menengah.

2.1.3        Positioning (Penetapan Posisi Pasar)

Usaha kami juga memiliki logo yang unik dan imut, ini memudahkan masyarakat untuk  mengingat dan mengenal usaha kami. Selain itu, kami menyediakan sebuah tag-line menarik, dengan tujuan membuat masyarakat semakin mudah mengingat usaha kami, berikut tag-line usaha kami:
Harga Merakyat, Kualitas Pejabat.

2.2   Gambaran Pasar

Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), jumlah pernikahan yang terjadi di Aceh pada tahun 2013 hingga 2015 selalu di atas 40.000 pernikahan setiap tahunnya. Dari data tersebut, dapat diperkirakan akan banyak pesta pernikahan yang dilaksanakan, sehingga ucapan terima kasih telah menghadiri pesta pernikahan (souvenir pernikahan) akan sangat dicari dan dibutuhkan. Disinilah usaha kami hadir untuk memenuhi keinginan masyarakat akan souvenir pernikahan.

2.3   Manajemen Organisasi

Dalam usaha ini saya mencakup semua peran dalam organisasi, yang memiliki tugas sebagai penanggung jawab atas kelancaran keseluruhan proses penyediaan barang dan pemasaran, memastikan kelancaran persediaan barang, menciptakan sistem pemasaran, melakukan negosiasi bisnis, menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan pengembangan usaha, mencatat transaksi dan dokumentasi, melakukan analisis keuangan, kelancaran distribusi produk dan peluasan pasar, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan usaha ini.

2.4   Analisis Persediaan Produk

Produk dari usaha ini di ambil dari marketplace, yaitu shopee. Dimana marketplace ini menawarkan harga yang lebih murah (seperti harga pabrik) jika dibandingkan dengan harga produk yang beredar di masyakarat, serta update produk-produk terbaru. Selain itu pembelian di shopee bisa dalam skala besar (di atas 1000pcs) dan tak lupa shopee juga menawarkan jaminan dengan pengembalian produk/uang jika produk tidak sesuai dengan deskripsi produk. Dengan memanfaatkan keunggulan yang ditawarkan di shopee, persediaan produk di usaha ini akan terjamin dengan kualitas terbaik dengan  harga yang bersahabat.
Selain dari shopee, saya juga akan membandingkan dengan marketplace lain (seperti lazada, bukalapak, dan lain-lain) dalam hal harga, produk, kualitas, dan beberapa hal lain untuk update persediaan sembari mencari supplier/rumah produksi/tangan pertama dari souvenir pernikahan.

BAB III

3.1   Kemungkinan Resiko

Dalam usaha apapun, tentu tidak luput dari hambatan. Berikut hambatan yang mungkin akan ditemui dalam bisnis ini beserta solusinya:
Ø  Resiko paling utama dalam usaha ini berhubungan dengan marketplace. Jika marketplace utama (shopee) tutup/tidak menyediakan produk souvenir pernikahan lagi, maka solusi dari saya adalah mencari produk dari marketplace lain (seperti lazada, bukalapak, dsb). Selain itu jika produk di marketplace tidak mencukupi dalam skala besar ataupun harganya lebih mahal dari harga yang beredar di masyarakat, maka solusi dari saya adalah mencari produk langsung dari rumah produksi/pabrik souvenir.
Ø  Bisnis akan bangkrut jika pengelolaan modal tidak jelas, dimana modal digunakan untuk komsumsi bukan untuk menyetok produk, jadi solusi untuk mengatasinya adalah pembukuaan yang jelas dengan mencatat seluruh perputaran uang di bisnis ini dan mengecek atau mengevaluasi pembukuan setiap bulannya yang dilakukan secara terbuka.
Ø  Adanya persaingan yang lebih kompetitif dalam penjualan souvenir pernikahan, solusi yang saya ambil adalah dengan membuat souvenir sendiri sehingga menambah nilai plus di mata konsumen dan berbeda dengan souvenir pernikahan.

3.2   Analisis Strength (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunity (kesempatan) dan Threat (ancaman)

1)      Strenght (Kekuatan)
a.    Pemilik mempunyai pengalaman yang cukup dalam hal pemasaran.
b.    Pemilik paham akan sosial media.
c.    Tempat yang aman dari pencurian.
2)      Weaknesses (Kelemahan)
a.    Pemilik belum pernah terjun ke usaha souvenir.
b.    Belum dikenal di masyarakat

3)      Opportunity (Kesempatan)
a.    Angka pernikahan kian hari semakin meningkat.
b.    Pesta pernikahan merupakan adat atau kebiasaan masyarakat.
c.    Produk bisa digunakan dalam jangka panjang.
d.    Pemasaran yang mudah.
4)      Threat (Ancaman)
a.    Persediaan stok dari marketplace kurang.
b.    Harga produk dari marketplace berubah (naik)

3.3   Strategi Pemasaran

Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang dilakukan oleh pengusaha dalam mempertahakan kelangsungan usaha dan mendapatkan laba. Untuk pemasaran yang akan saya gunakan adalah dengan menyebarkan brosur/selebaran yang menarik di masjid-masjid yang menjadi tempat favorit untuk melangsungkan akad pernikahan, serta menempelkan brosur di KUA seputaran Banda Aceh, Aceh Besar dan sekitarnya. Untuk meningkatkan penjualan dari usaha ini, saya akan menggunakan strategi pemasaran online menggunakan aplikasi instagram (salah satu aplikasi popular yang ramai digunakan masyarakat). Jadi dengan menggunakan instagram akan dengan mudah memperkenalkan produk dan usaha yang sedang saya rintis.

3.4   Strategi Harga

Dalam usaha ini saya akan menggunakan beberapa strategi penentuan harga untuk memajukan usaha ini, yaitu:
Ø  Penetration Price: menentukan harga awal yang murah dengan tujuan untuk penetrasi pasar dengan cepat dan juga membangun loyalitas merek dari pada konsumen.
Ø  Multiple-Unit Pricing: memberikan potongan harga tertentu apabila konsumen membeli produk dalam jumlah yang banyak.
Ø  Memberikan harga khusus kepada langganan dan reseller.

3.5   Strategi Pengembangan Usaha

Ø  Membuka sebuah toko yang berada dipusat kota / keramaian
Ø  Menambah variasi dari souvenir pernikahan
Ø  Meningkatkan jumlah persediaan souvenir pernikahan
Ø  Memproduksi souvenir pernikahan sendiri
Ø  Menjalin kerjasama dengan berbagai Event Organizer (EO)
Ø  Memiliki situs website sendiri

3.6   Corporate Social Responsibility (CSR)

Ø  Mempekerjakan masyarakat sekitar dan mahasiswa UIN Ar-Raniry (terutama dari FEBI)
Ø  Memiliki manajemen zakat yang baik
Ø  Mengajarkan cara pemasaran dan membuat pelanggan menjadi langganan kepada UMKM sekitar
Ø  Ikut serta dalam pameran adat ataupun hal yang berhubungan dengan adat istiadat
Ø  Ikut serta dalam acara motivasi kewirausahaan jiwa muda